Kamis, 03 Februari 2011

BAGAIMANA AGAR MUDAH QIYAMUL LAIL?

 Bismillah...., makalah yang kami posting kali ini berawal dari rasa penasaran kami, kenapa akhir-akhir ini sulit sekali melaksanakan qiyamul lail....., apakah sebabnya ?
pembahasan yang kami ambil dengan refrensi induk dari kitab yang ditulis oleh ulama' yang berkapabelitas tinggi dalam bidang akhaq dan aqidah "Ibnu Qudamah" dalam kitab beliau Minhajul Qashidin. berikut pembahasannya.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMUDAHKAN QIYAMUL LAIL
    Sebagaimana yang dirasakan kebayakan kaum muslimin, qiyamul lail adalah satu perkara ibadah yang masih dianggap berat dalam pelaksanaannya. Kecuali bagi orang-orag yang diberi kemudahan oleh Allah swt dan dinaungi rahmatNya. Pada waktu yang seharusnya menjadi kesempatan terbaik bagi hamba untuk bertaqorrub dan mengadu kepada robbnya, justru manusia lebih memilih untuk menghabisakan malamnya dengan bermanjaan bersama bantal dan selimutnya sampai tiba waktu pagi.
    Namun sebenarnya dalam islam tidak ada ibadah yang menyulitkan bagi siapa yang ingin melaksanakannya, termasuk dalam pelaksanaan ibadah-ibadah nawafil seperti qiyamul lail tersebut. Adapun kalau ada ibadah nawafil yang prioritasnya lebih berat dari ibadah-ibadah yang lain, baik dalam tata cara pelaksanaanya, waktu pelaksanaannya ataupun jumlah rakaatnya (dalam contoh sholat), maka itupun karena ibadah tersebut memiliki fadhilah tersendiri dibanding dengan yang lainnya. Contoh dalam pelaksanaan qiyamul lail, seperti yang kami sebutkan didepan tadi, ibadah ini memang sebagian muslimin menganggap sebagai ibadah yang sulit ditekuni, bahkan untuk sekedar seminggu sekali saja mungkin masih ada yang keberatan. Yang demikian karena qiyamul lail memiliki banyak fadhilah, seperti yang  disebutkan dalam sabda nabi saw “
عليكم بقيام الليل, فإنه دأب الصالحين قبلكم , وهو قربة إلى ربكم, ومغفرة للسيأت و منهاة للإثم (رواه الترمذي ,حسن صحيح)
“Laksanakanlah qiyamul lail karena sesungguhnya itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, qiyqul lail adalah media untuk mendekatkan diri kepada Allah, factor pengampun dari kejelekan-kejelekan kalian dan penghapus dosa-dosa.” [H.R. Tirmidzi]
Hasan al Bashri juga berkata “Aku belum pernah mendapati ibadah lain yang lebih baik (keutamaannya) dari ibadah sholat pada tengah malam . Ia ditanya “kenapa wajah-wajah mutahajid (orang-orang yang bertahajud) lebih berseri dari pada anusia yang lainnya?” maka ia menjawab “yang demikian itu karena mereka suka menyendiri bersama robb merka, maka robb mereka menghiasai mereka dengan cahayaNya.”
    Kita semua tentu  ingin mendapatkan keutamaan-keutamaan qiyamul lail tersebut, tapi bagaimana dengan kita yang masih merasa berat dan sulit dalam melaksanakannya ?
    Nah, dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah disebutkan beberapa factor yang dapat memudahkan dalam melaksanakan  qiyamul lail. Oleh beliau, faktor-faktor tersebut dibagi kedalam factor lahir (riil) dan factor batin (abstrak).
I.    Faktor yang dhahir
a.    Menghindari banyak makan, sebagian ulama’ mengatakan “Wahai orang-orang yang berwirid, janganlah kalian banyak makan, banyak minum dan juga banyak tidur, sehingga kalian banyak kehilangan kebaikan kalian.”
Diriwayatkan bahwa iblis menampakkan diri pada nabi Yahya bin Zakariya dengan membawa banyak sendok. Yahya bertanya kepadanya “Ada apa dengan sedok-sendok itu?” iblis menjawab “ini adalah syqhwqt yang saya gunakan untuk memperangkap anak Adam” Yahya berkata kepadanya “Apakah engkau mendapati sesuatu pada diriku yang berkaitan dengan perangkapmu itu?” iblis menjawab “ya, pada suatu malam engkau sangat kenyang sehingga aku bisa membuatmu merasa berat untuk mengerjakan sholat malam.” Kemudian Yahya berkata “tentu, sesudah ini saya tidak mau berkenyang-kenyang selamanya.” Iblis berkata “baiklah, tapi jangan kau nasihatkan kepada orang-orang sesudahmu.”
b.    Hendaklah tidak mengikuti hawa nafsu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, sehingga membuatnya merasa capek dan malas ketika ingin melaksanakan sholat pada malam harinya.
c.    Hendaklah tidak  meninggalkan qoilulah (tidur sebentar disiang hari), karena qoilulah dapat membantu memudahkan bangun malam.
Hasan al bashri masuk kedalam pasar. Ketika mendengar kebisingan dan omong kosong mereka, maka ia berkata “Aku tidaklah menyangka bahwa malam yang mereka lalui melainkan malam yang buruk, mereka tidak qoilulah saja?”
d.    Menghindari dosa-dosa disiang dan malam harinya.
Sebagaimana perkataan ats Tsauri “Aku terhalang dari qiyamul lail selama lima bulan karena dosa yang telah aku perbuat.” Kemudian ditnyakan kepada beliau “Dosa apakah itu?” beliau menjawab “Aku melihat seorang laki-laki yang menangis, lalu aku katakan didalam hatiku bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk kepura-puraan saja (hanya untuk riya’) . Fudhoil bin Iyyadh juga berkata “jika engkau tidak mampu melaksanakan sholat pada malam hari dan puasa pada siang hari, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau sedang terhalang oleh dosa.” 
e.    Jangan tidur berselimut,
Dan ada factor-faktor lain yang memudahkan untuk bangun malam yang disebutkan dalam kitab Qiyamul Lail wa Asroruh, diantaranya adalah :
    Menyambut datangnya malam dengan berwudhu dan berdzikir serta membaca al Qur’an diantara  waktu maghrib dan Isya’.
    Tidak berbincang-bincang setelah sholat Isya’.
    Memperbarui wudhu setelah sholat Isya’.
    Mengubah kebiasaan dalam gaya tidur, jika sebelumnya  seseorang biasa tidur dengan bantal maka ia meninggalkan bantal tersebut, begitu juga kebiasaan berselimut.
    Mengiringi makan dengan dzikir dan penjagaan batin.
    Demi kehati-hatian, hendaklah melaksanakan sholat witir sebelum tidur.
    Menghadap kiblat ketika tidur dan membaca doa
باسمك اللهم وضعت جنبي وبك أرفعه اللهم إن أمسكت نفسي فاغفرلهــا وارحمهــا وإن أرسلتها فاحفظهـــا بما تحفظ به عبادك الصـــالحينز اللهم إني أسلمت نفسي إليك ووجّهت وجهي إليك و فوّضت أمري إليك و ألجأت ظهري إليك رهـبة منك و رغبة إليك , لا ملجأ و لا منجا منك إلاّ إليك, امنت بكتا بك الذي أنزلت ونبيك الذي أرسلت . اللهم قني عذابك يوم تبعث عبادك .
II.    Faktor-faktor batin
a.    Membersihkan hati dari kedengkian terhadap sesama  muslim, menjauhkannya dari bid’ah, perkataan yang berlebihan yang tiada manfaat dan selamat dari berlebihan dalam memikirkan keinginan-keinginan duniawi. Karena orang yang hati dan pikirannya disibukkan dengan kepentingan duniawi akan sulit bangun malam untuk sholat, kalaupun dia sholat tentunya akan sulit sekali mencapai kekhusyu’an.
b.    Rasa takut (kepada Allah) yang mendominasi hati dengan diiringi pendeknya angan-angan. Saat hati seseorang diliputi rasa takut terhadap robbnya dan terbayang di benaknya kengerian gambaran siksa jahanam, maka ia tak akan bisa tidur nyenyak sehingga muncul rasa kewaspadaan yang tinggi terhadap dirinya dengan cara meningkatkan kualitas ibadahnya. Thowus berkata “Jika disebutkan neraka jahanam, maka hilanglah rasa kantuk orang-orang ahli ibadah.”
c.    Tahu tentang keutamaan qiyamul lail, dengan mengkaji ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits nabi. Sehingga dengan demikian mampu membangkitkan semangatnya utuk mendapatkan pahala surga disisiNya.
d.     Yang merupakan motivasi terbaik untuk membangkitkan semangat  qiyamul lail adalah kecintaan terhadap Allah dan  keyakinan bahwa saat  ia melakukannya maka robbnya menyaksikannya dan hadir dihadapannya sehingga ini menjadikannya mampu bermunajat sepanjang sholatnya. Dengan kenikmatan bermunajat ini pulalah yang menjadikan seseorang mampu komitmen (istiqomah) melaksanakan qiyamul lail dalam jangka waktu yang panjang. Abu Sulaiman Ad Daroni berkata : “Orang-orang yang biasa melakukan qiyamul lail itu lebih menikmati malam-malam mereka dari pada orang-orang lalai yang menikmati canda mereka.  Kalaulah bukan karena (kenikmatan) malam hari, maka aku tidak ingin ada di dunia ini.”
Dalam shohih Muslim diriwayatkan bahwa nabi saw pernah bersabda : “sesungguhnya di dalam satu malam ada satu waktu yang tidak diketahui oleh seorang hamba muslim bahwasanya apabila ia memohon kebaikan pada waktu itu maka Allah akan mengabulkannya, dan yang demikian itu ada dalam setiap malam.”
    TINGKATAN-TINGKATAN  MENGHIDUPKAN QIYAMULLAIL
    Pertama : Semalam penuh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sebagian salaf.
Kedua      : Pada separuh malam,sebagaimana yang dirwayatkan oleh sebagian salaf juga yang terbiasa melaksanakannya,yaitu pada seperenam malam terakhir dan tidur dulu pada sepertiga malamnya.
Ketiga      : Pada sepertiga malam, yaitu dengan tidur pada separuh malam pertama dan seperenam malam terakhir. Cara ini adalah cara yang sering dilaksanakan oleh nabi Dawud. Diriwayatkan dalam shohihain : “Solat yang paling dicintai Allah adalah sholatnya Daud, tidur pada separuh malamnya dan bangun sholat pada sepertiganya kemudian tidur kembali di seperenamnya.”[H.R. Muslim]
    Kenapa cara dengan tidur pada sepeream malam terakhir yang dicintai Allah?, disamping menghindari kantuk saat sholat subuh, tidur pada akhir malam juga dapat menghilangkan pucat pada wajah akibat begadang malam.
Keempat: Pada seperenam malam atau seperlimanya, dan yang lebih afdhol pada pelaksanaan yang seperti ini adalah pada bagian setengah malam akhir. Sebagian yang lain berpendapat pada seperenam akhir.
Kelima    : Tidak ada batasan waktu tertentu, karena menentukan waktu pelaksanaan itu sulit kecuali bagi orang yang sudah terbiasa.
tata cara pelaksanaannya ada dua cara :
Pertama : Bangun pada permulaan malam hingga merasa ngantuk atau tertidur, ini adalah upaya yang sulit dan ini adalah cara yang dilaksanakan para salaf.
Diriwayatkan dalam shohihain, dari sahabat     Anas r.a berkata : “tidaklah kami ingin melihat nabi saw pada saat / waktu sholat kecuali kami mendapati beliau sedang dalam keadaan sholat dan tidaklah kami ingin melihat beliau pada saat/ waktu tidur kecuali kamu mendapati beliau dalam keadaan tidur.”
Begitu juga sahabat Umar bin Khottob, beliau melakukan sholat malam sesuai kehendak Allah hingga apabila tiba waktu di akhir malam maka beliau membangunkan keluarganya dan berkata kepada mereka “mari sholat,mari sholat”
Kedua : Tidur pada awal malam kemudian apabila terbangun maka melakukan sholat malam pada sisa malamnya selama ia terjaga tadi.
Keenam :  melakukan sholat setelah bangun meskipun hanya dua atau empat rekaat, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari rasulullah saw , bahwasanya beliau bersabda
صَلُّوْا مِنَ اللَّيْلِ, صَلُّوْا أَرْبَعاً صَلُّوْا رَكْعَتَيْنِ
 “sholat malamlah kalian, sholatlah empat rekat atau dua rekaat.”  [hadits dhoif riwayat Ibnu Abi Syaibah]
    Dalam sunan Abu Dawud disebutkan, Rasulullah waw bersabda : “apabila seorang lelaki bangun dari tidurnya (di malam hari) kemudian ia membangunkan isterinya kemudian keduanya sholat dua rekaat, maka  keduanya akan ditulis sebagai orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah.”
    Demikianlah beberapa metode untuk melaksanakan qiyamul lail, bagi siapa yang ingin melaksanakannya maka hendaklah ia memilih mana yang mudah baginya. Apabila kesulitan untuk bangun pada pertengahan malam, maka hendaklah ia tidak memaksakan diri.
SEMOGA BERMANFAAT

1 komentar:

  1. kehidupan dunia hanya sementara, ibarat persinggahan tentunya kita akan meninggalkannya untuk melanjutkan perjalanan. maka sudah seyogyanya bagi setiap muslim untuk selalu mengingat akan hal itu dan berusaha kualitas amal ibadah dan ketaqwaan kepada Roobul 'alamin.

    BalasHapus